kafe baca biblioholic | tempat gaul para pecandu buku
Bantu Kami Mewujudkan Surga bagi Pencinta Dunia Baca dan Tulis di Makassar!
Saya selalu membayangkan surga itu seperti perpustakaan. (Jorge Luis Borges)
Agar bisa menjadi ‘surga’ bagi pencinta dunia baca-tulis di Makassar, kami membutuhkan uluran tangan dari Anda. Saat ini kami membutuhkan relawan dan donator. Selengkapnya, silakan baca di sini!
Hadiah di Bulan Cinta
Sejak berdiri pada tanggal 13 Mei 2004 Kafe Baca Biblioholic, lembaga literasi non-profit anggota Komunitas Ininnawa, yang dikelola secara sukarela oleh beberapa relawan ini terus berbenah diri. Di Februari, bulan penuh cinta ini, kami akan memberikan kepada Anda dan menerima dari Anda sejumlah hadiah. Mau tahu hadiah apa saja itu? Baca di sini!
Yang Seru Mulai Maret 2009
Setelah mengalami pembenahan manajemen di awal tahun 2009 ini, kami akan kembali meluncurkan beberapa program yang akan berjalan mulai Maret tahun ini. Program apa saja? Silakan baca lebih detail di sini!
FACEBOOK memang sedang bikin banyak orang kepayang. Konon sekarang sudah lebih dari 150 juta orang jadi penduduknya. Wow!
Nah, Kafe Baca Biblioholic yang tempat gaul para pecandu buku juga tak mau ketinggalan dong! Makanya sekarang di situs jaringan sosial itu Anda juga sudah bisa menemukan Kafe Baca Biblioholic.
Tiga hari yang lalu, tepatnya 10/02/09, kami membuka halaman grup di sana. Baru berusia 3 hari sudah lebih 360 orang yang bergabung. Dan, tentu saja, masih akan bertambah.
Bagi Anda yang punya account di Facebook juga boleh bergabung di grup itu. Di sana, bersama anggota lainnya, Anda bisa saling berbagi dan menemukan informasi terbaru seputar Kafe Baca Biblioholic.
Tertarik, tidak? Pasti! Kalau begitu, segera ke sana melalui pintu ini.
Ngomong-ngomong, kok bisa ya layar laptop yang datar seolah nampak cembung dalam foto di atas?
GAMBAR di atas itu adalah setumpuk kartu anggota milik anggota Kafe Baca Biblioholic yang baru mendaftar. Kartu-kartu itu baru selesai dibuat. Di gambar itu ada 32 lembar kartu (kalau tak percaya, hitung sendiri!) Di Kafe Baca Biblioholic ada dua jenis kartu: VIP dan Biasa.
Serupa itulah kartu anggota seri terbaru yang kami keluarkan. Lebih tahan lama, tak meleleh kalau kena air, tak lusuh kalau sudah lama berada di dompet, dan lebih keren desainnya.
Nah, kalau mau meminjam buku di perpustakaan kami, Anda harus punya kartu semacam itu! Berminat punya kartu semacam itu?
Musibahnya? Nyaris tiap hari ada danau di depan ruang baca kami. Danaunya bisa mencapai lutut orang dewasa. Imbasnya kami harus lebih rajin membersihkan, pengunjung berkurang, kafe di halaman tutup jadi tak bisa menikmati kopi toraja sambil membaca, dan kami terancam kekurangan gizi karena malas keluar beli makanan. Ah, Februari, bulan hujan!
Anugerahnya? Kami dapat lebih seratus judul buku baru. Saatnya bersuka setelah berbulan-bulan berduka karena tak bisa memenuhi harapan anggota kami yang menginginkan koleksi buku baru. Ah, Februari, bulan cinta!
SETELAH mengalami pembenahan manajemen di awal tahun 2009 ini, kami akan kembali meluncurkan beberapa program yang akan berjalan mulai Maret tahun ini.
Solata [Sorot Layar Tamalanrea]
Program menonton film gratis saban malam Minggu (pukul 19.00 – 22.00) ini berhenti karena fasilitas LCD kami rusak. Namun mulai Maret ini program ini akan kembali berjalan seperti biasa.
Kelas Menulis
Program yang cukup banyak diminati ini juga akan berjalan kembali mulai Maret. Program ini akan berlangsung saban Sabtu (pukul 15.00 – 17.30). Kelas ini akan difasilitasi oleh beberapa penulis.
Kaki Empat [Karya Kawan-kawan Kami]
Kami akan memamerkan, memutar, mementaskan dan mendiskusikan karya Anda di Kafe Baca Biblioholic. Karya yang kami maksud bisa berupa lukisan, foto, film, kartun dan karikatur, musik, teater, tari dan karya sastra.
Diskusi Buku
Bulan Maret ini Kafe Baca Biblioholic akan melaksanakan beberapa diskusi buku. Beberapa buku yang akan didiskusikan adalah Api Curian Promotheus dan Esai-esai Lainnya karya Ishak Ngeljaratan dan Kisah Tanpa Wajah karya Ahyar Anwar.
Jika Anda memiliki buku yang ingin didiskusikan di Kafe Baca Biblioholic, silakan hubungi kami.
SEJAK BERDIRI pada tanggal 13 Mei 2004 Kafe Baca Biblioholic, lembaga literasi non-profit anggota Komunitas Ininnawa, yang dikelola secara sukarela oleh beberapa relawan ini terus berbenah diri. Di Februari, bulan penuh cinta ini, kami akan memberikan kepada Anda dan menerima dari Anda sejumlah hadiah. Secara sederhana hadiah itu kami jelaskan seperti berikut ini:
/1/
KAMI menyediakan kesempatan kepada 500 orang untuk bergabung menjadi anggota tanpa perlu memikirkan uang pendaftaran. Sebab 500 orang yang beruntung itu tidak akan dibebani biaya pendaftaran. Kami telah menyiapkan lembaran voucher untuk program ini. Silakan dapatkan lembaran voucher itu di Kafe Baca Biblioholic. Kemudian setor foto kopi kartu identitas Anda yang masih berlaku [KTP/Kartu Mahasiswa atau Pelajar/SIM]. Program ini akan berlangsung selama sebulan, 15 Februari – 15 Maret 2009.
/2/
MULAI 14 Februari 2009, kami memberikan kesempatan kepada para anggota Kafe Baca Biblioholic untuk melakukan peminjaman buku gratis. Program ini berlangsung mulai 14 – 28 Februari 2009. Hanya dengan menunjukkan kartu anggota, Anda bisa mengikuti program ini.
/3/
DI TENGAH krisis global dan melambungnya harga buku, kami menurunkan biaya pendaftaran dan peminjaman buku di Kafe Baca Biblioholic. Biaya pendaftaran menjadi Rp20.000,- (sebelumnya Rp25.000,-) dan biaya jaminan dihilangkan (sebelumnya Rp15.000,-)
Sementara biaya peminjaman buku kami potong 50%. Paket Sehari dikenakan biaya Rp500,- per buku (sebelumnya Rp1000), Paket 3 Hari dikenakan biaya peminjaman Rp1000 per buku (sebelumnya Rp2000,-), dan Paket 5 Hari dikenakan biaya peminjaman Rp1500,- (sebelumnya Rp3000,-). Sekali peminjaman Anda bisa membawa pulang 2 judul buku.
Hari Minggu tetap buka dan akan tetap menjadi hari gratis meminjam. Misalnya, jika Anda meminjam buku pada hari Sabtu menggunakan paket sehari, Anda tak perlu mengembalikan itu besoknya, melainkan hari Senin. Artinya Anda mendapat bonus sehari.
/4/
KAMI membuka kesempatan bagi lembaga-lembaga kampus atau komunitas luar kampus yang ingin meminjam koleksi Kafe Baca Biblioholic untuk kepentingan kampanye baca. Anda bisa meminjam maksimal 200 judul koleksi kami tanpa perlu biaya apa pun.
/5/
Kami juga membuka kesempatan bagi Anda yang ingin mendapatkan fasilitas VIP Member. Persyaratanya: sumbangkan minimal 10 judul buku Anda kepada kami. Itu saja! Kesempatan ini terbuka setiap saat. Pemegang kartu VIP Member ini bebas biaya peminjaman buku di Kafe Baca Biblioholic seumur hidup.
/6/
KAMI juga membuka kesempatan kepada semua Himpunan Mahasiswa Jurusan di kampus-kampus di Makassar untuk bekerja sama dengan Kafe Baca Biblioholic. Kartu himpunan bisa digunakan sebagai kartu peminjaman di Kafe Baca Biblioholic. Kerja sama ini juga meliputi penggunaan ruang baca dan fasilitas kami untuk diskusi bagi mereka. Program ini akan berjalan sepanjang tahun.
/7/
KAMI, tentu saja, terbuka menerima bantuan untuk pengembangan Kafe Baca Biblioholic. Bantuan itu bisa berupa buku (tak perlu baru, yang penting masih layak baca) dan uang. Bantuan juga bisa berupa tenaga volunteer, saran, kritik. Dan alangkah senangnya kami jika ada yang ingin menjadi donator tetap. Program ini juga akan berjalan sepanjang tahun.
Catatan:
:: Semua biaya yang dipungut dari anggota sepenuhnya digunakan untuk biaya operasional perpustakaan, seperti; bayar lampu + air + telepon, langganan koran, biaya bungkus buku + katalogisasi, alat tulis kantor, dan lain-lain.
:: Bagi yang ingin jadi relawan, kami beritahukan bahwa semua orang yang bekerja di Kafe Baca Biblioholic ini sepenuhnya bekerja tanpa digaji. Kami hanya akan memberikan kesempatan untuk menggunakan semua fasilitas di Kafe Baca Biblioholic secara cuma-cuma sebagai bentuk terima kasih kami.
TENTU saja kita harus berusaha keras (yang tentu sangat sulit) mendorong anak-anak kita untuk beranjak dari depan layar televisi yang menawarkan beragam program-program yang sangat digandrungi oleh anak masa kini untuk kemudian memelototi buku (data th 2002 mengenai jumlah jam menonton TV pada anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1000 jam/tahun.)
Sangat menggembirakan saat mendengar pemerintah kota Makassar menggalakkan program Makassar Gemar Membaca, yang berarti telah menunjukkan kesadaran kita akan pentingnya budaya baca untuk membangun masyarakat. Tentu saja kita telah menyadari bagaimana pentingnya budaya baca dalam membangun masyarakat, pun kita tentu saja telah menyaksikan dan merasakan bagaimana budaya baca telah sangat menentukan peradaban umat manusia. Dari sejak berabad-abad lampau ketika bahan bacaan masih diproduksi dengan penyalinan manual (oleh para penyalin naskah di scriptorium) sampai saman revolusi yang terjadi ketika Gutenberg menemukan mesin cetak.
Dalam perjalanan sejarah dunia intelektual indonesia, kita menyaksikan bagaimana bahan bacaan sangat penting dan menentukan, bagaimana perjalanan hidup kaum intelektual dan orang terkenal ternyata sangat dipengaruhi oleh bahan bacaan yang mereka lahap sejak usia remaja. Sastrawan-sastrawan terkemuka seperti H.B. Yassin, Ajip Rosidi, Remy Silado, Rosihan Anwar dan lain-lain, sampai olahragawan seperti Syamsul Anwar Harahap (baca Bukuku Kakiku, Gramedia 2004).
Sangat jauh jika kita mencoba membandingkan bagaimana budaya baca kita dengan negara-negara maju semisal Jepang bahkan sesama negara-negara berkembang di asia tenggara sekalipun (semisal Malaysia dan Philipina).
Tantangan Menumbuhkan Minat Baca
Kita mungkin setuju bahwa untuk membangun budaya baca di masyarakat harus dilakukan sejak usia dini.
Namun, membangun budaya baca saat ini ternyata bukanlah hal yang mudah, kita harus berjuang dan bersaing dengan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh dunia modern yang serba praktis (dunia digital, internet dan multimedia).
Tentu saja kita harus berusaha keras (yang tentu saja sangat sulit) mendorong anak-anak kita untuk beranjak dari depan layar televisi yang menawarkan beragam program-program yang sangat digandrungi oleh anak masa kini untuk kemudian memelototi buku (data th 2002 mengenai jumlah jam menonton TV pada anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun . Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1000 jam/tahun.).
Juga akan sangat kesulitan untuk mengajak pelajar-pelajar kita untuk menyempatkan waktunya mengunjungi perpustakaan ketimbang chating di warnet. Dan pasti anak kita akan sangat gusar jika mengajak mereka membuka-buka buku ketimbang memencet-mencet tombol toy stick play station. Bahkan di universitas yang sangat akademis sekalipun kita bisa melihat bagaimana mahasiswa-mahasiswanya lebih senang diajak ke mall atau ke bioskop daripada ke perpustakaan.
Mendorong Perbukuan Lokal
Menyadari pentingnya menumbuhkan budaya baca dalam membangun masyarakat dan peradaban itu pulalah yang mungkin mengilhami pemerintah kota untuk kemudian menggalakkan program Makassar Gemar Membaca (meski sampai saat ini gaungnya masih pada aras jargon).
Kenyataanya dibandingkan dengan beberapa kota besar di Indonesia tidak berlebihan mungkin jika dikatakan Makassar masih sangat tertinggal jauh dan butuh proses panjang untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Sebut saja misalnya Jogjakarta yang telah dikenal sebagai surga perbukuan. Selain minat baca memang telah tumbuh yang didukung tersedianya bahan bacaan serta pendukung-pendukung lainnya seperti kemudahan mengurus ijin penerbitan, jaringan distribusi dan kualitas percetakan.
Jadi untuk menumbuhkan budaya baca dan dunia perbukuan lokal memang dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai penulis, penerbit, industri dan pemerintah tentu saja, dalam hal ini pemerintah mencoba menfasilitasi tumbuhnya penerbitan-penerbitan lokal dan industri percetakan sambil kita berusaha merangsang lahirnya penulis-penulis lokal. Untuk tujuan tersebut akan sangat bagus jika didukung oleh kebijakan pemerintah kota, misalnya mau membantu penerbitan-penerbitan buku-buku berkualitas dari penulis-penulis lokal (tidak hanya buku-buku biografi para politisi saat ada hajatan politik semisal pilkada) atau misalnya dengan menyisihkan anggaran untuk memajukan dan mendukung tumbuhnya tempat-tempat baca di makassar (bukan hanya tempat baca yang dipasang di kantor-kantor kecamatan yang aksesnya relatif lebih susah).
Tidakkah ironis jika untuk menerbitkan sebuah buku tentang sejarah Sulawesi Selatan, masyarakat kita sendiri, sebuah penerbit lokal justru dibantu oleh orang-orang berkebangsaan asing, yang justru lebih tertarik terhadap dunia perbukuan lokal kita.
Sumber Daya Lokal
Ada keterkaitan sirkular antara budaya baca dengan ketersediaan bahan bacaan, minat baca tidak akan bisa tumbuh subur jika bahan bacaan tidak tersedia secara memadai, sementara penyediaan bahan bacaan, yang dalam hal ini tentu saja terkait dengan dunia pasar, akan maju jika minat baca bisa tumbuh dengan baik, ini sangat dirasakan terutama di tingkat lokal semisal Sulawesi Selatan/Barat, khususnya Makassar dimana atmosfir akademik yang bisa mendukung dunia intelektual/perbukuan relatif lebih terasa. Kita patut bergembira bahwa usaha penerbitan lokal sudah mulai menggeliat di Makassar, meskipun, tentu saja, masih butuh proses panjang untuk menjadi penerbitan yang mapan. Misalnya penerbitan Ininnawa, Gora Pustaka, Pustaka Refleksi dan lain-lain, namun paling tidak akan merangsang dan mendukung bertumbuhnya budaya baca masyarakat kita.
Saat ini juga sudah mulai tumbuh tempat-tempat baca alternatif selain perpustakaan konvensional, seperti cafe baca dan rental buku (semisal cafe baca Biblioholic, Hitam Putih, Idefix di Tamalanrea, Lontarak di jl. Emy saelan dan beberapa tempat-tempat baca alternatif lainnya). Sepatutnya pemerintah kota mencoba memanfaatkan trend ini, ya tentu saja dengan mendukung dan membantu mereka atau paling tidak membuat program kreatif yang mendayagunakan penerbitan-penerbitan lokal dan tempat-tempat baca alternatif tersebut. Untuk usaha ini perlu usaha yang kreatif dari pemerintah jika tidak mau dikatakan bahwa program gemar membaca itu hanya sekedar program jargon.
Jadi sangat menarik ujaran seorang pengelolah penerbitan lokal yang mengatakan ‘menumbuhkan minat baca tidak cukup dengan hanya gerak jalan santai’ mudah-mudahan pemerintah kota tersinggung dengan ujaran tersebut. Semoga! Kita tunggu kejadian selanjutnya!.(p)
Kafe Baca Biblioholic awalnya didirikan hanya untuk berbagi koleksi buku pribadi kepada orang-orang yang juga suka membaca dengan cara sedikit gaul. Seiring waktu kami berkembang menjadi tempat berkumpul para para penggila buku. Kondisi itu mendorong kami untuk kemudian menata tempat dan pengelolaan menjadi sedikit lebih layak untuk dijadikan tempat gaul. Kami kemudian menyebutnya sebagai tempat gaul para pecandu buku. Kafe Baca Biblioholic merupakan hasil gotong royong beberapa alumni mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar dari berbagai jurusan yang mencintai dunia buku.
Kafe Baca Biblioholic yang berdiri 13 Mei 2004 ini kini memiliki fasilitas yang dapat didayagunakan khalayak. Beberapa di antaranya; ribuan koleksi buku, hotspot, kelas menulis, ruang baca yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, nonton gratis, dan lain-lain.
Kafe Baca Biblioholic adalah komunitas literasi non-profit, salah satu anggota Komunitas Ininnawa. Kami setiap hari buka mulai pukul 09.00 hingga 22.00.
Kami juga menerima bantuan dalam bentuk relawan dan donasi buku atau uang. Bagi calon relawan, perlu diingat bahwa tak seorang pun yang berkerja di Kafe Baca Biblioholic yang digaji. Bagi yang mau menyumbang buku silakan kirim ke alamat kami atau bagi yang tinggal di Makassar bisa menghubungi kami untuk menjemputnya di alamat Anda.
Sementara bagi yang ingin memberikan donasi dalam bentuk uang, bisa mengirimkannya ke rekeningberikut:
M. Aan Mansyur,
152-00-0699973-0,
Bank Mandiri Cabang Makassar.
(Mohon konfirmasi ke nomor Eka (085255513955), bagian keuangan, setelah mengirimkan donasi.)
Alamat lengkap kami:
Kafe Baca Biblioholic
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 9 No 76 Makassar
Telp/Fax. (0411) 586459
Contact Person:
Ochank (0411-2437885),
Aan (081342478649),
Eka (085255513955)
E-mail:
cafebacabiblioholic@gmail.com
biblioholicmakassar@gmail.com
Kami Pengelola
abdul khaliq syukur | librarian
andi masita arsyad | librarian
eka wulandari | finance manager
fauzan ma | general manager
m aan mansyur | program manager
nur muhammad ahmad | librarian
Kutipan Hari Ini
A book is a gift you can open again and again.(Garrison Keillor, writer and broadcaster, birth 1942)
Papan Informasi
#1
KAMI menyediakan kesempatan kepada 500 orang untuk bergabung menjadi anggota tanpa perlu memikirkan uang pendaftaran. Sebab 500 orang yang beruntung itu tidak akan dibebani biaya pendaftaran. Kami telah menyiapkan lembaran voucher untuk program ini. Silakan dapatkan lembaran voucher itu di Kafe Baca Biblioholic. Kemudian setor foto kopi kartu identitas Anda yang masih berlaku [KTP/Kartu Mahasiswa atau Pelajar/SIM]. Program ini akan berlangsung selama sebulan, 15 Februari – 15 Maret 2009.
#2
MULAI 14 Februari 2009, kami memberikan kesempatan kepada para anggota Kafe Baca Biblioholic untuk melakukan peminjaman buku gratis. Program ini berlangsung mulai 14 – 28 Februari 2009. Hanya dengan menunjukkan kartu anggota, Anda bisa mengikuti program ini.
#3
DI TENGAH krisis global dan melambungnya harga buku, kami menurunkan biaya pendaftaran dan peminjaman buku di Kafe Baca Biblioholic. Biaya pendaftaran menjadi Rp20.000,- (sebelumnya Rp25.000,-) dan biaya jaminan dihilangkan (sebelumnya Rp15.000,-)
Sementara biaya peminjaman buku kami potong 50%. Paket Sehari dikenakan biaya Rp500,- per buku (sebelumnya Rp1000), Paket 3 Hari dikenakan biaya peminjaman Rp1000 per buku (sebelumnya Rp2000,-), dan Paket 5 Hari dikenakan biaya peminjaman Rp1500,- (sebelumnya Rp3000,-). Sekali peminjaman Anda bisa membawa pulang 2 judul buku.
Hari Minggu tetap buka dan akan tetap menjadi hari gratis meminjam. Misalnya, jika Anda meminjam buku pada hari Sabtu menggunakan paket sehari, Anda tak perlu mengembalikan itu besoknya, melainkan hari Senin. Artinya Anda mendapat bonus sehari.
#4
Kami juga membuka kesempatan bagi Anda yang ingin mendapatkan fasilitas VIP Member. Persyaratanya: sumbangkan minimal 10 judul buku Anda kepada kami. Itu saja! Kesempatan ini terbuka setiap saat. Pemegang kartu VIP Member ini bebas biaya peminjaman buku di Kafe Baca Biblioholic seumur hidup.